Cegah Kekerasan Siswa, Mendikdasmen Minta Semua Guru Memiliki Tugas BK
Garuda Nusantara-Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, semua guru harus memiliki tugas bimbingan konseling (BK) untuk mencegah kekerasan di sekolah.
Tugas memberikan BK, berlaku untuk semua guru, tak terbatas pada guru BK saja. “Nanti di dalam kebijakan kami sudah ada, kan semua guru itu harus punya tugas bimbingan konseling walaupun dia bukan guru BK,” kata Mu’ti saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (11/11).
Dia juga menekankan bahwa guru wali bertugas mengenali potensi muridnya, memitigasi, berdialog, dan bisa menjadi penghubung antara sekolah dengan orang tua.
“Membicarakan berbagai macam persoalan yang selama ini kan komunikasi antara orangtua dengan sekolah belum terjalin dengan baik, beberapa sekolah sudah melakukan,” ucapnya.
Mu’ti mengatakan, komunikasi yang baik itu bisa menjadi sarana agar anak-anak ini merasa seperti “di rumah” ketika berada di sekolah, terlepas dari latar belakang ekonomi maupun capaian akademik mereka.
Ia menyebutkan, selama ini korban perundungan dianggap lebih lemah dari yang lain sehingga menjadi sasaran empuk untuk di-bully.
“Mereka yang selama ini menjadi korban perundungan itu kan yang powerless, yang secara power dianggap lebih lemah dari yang lain. Kalau kita mengembangkan sikap yang lebih humanis, maka kita bisa mengembangkan budaya saling menerima di antara semua insan,” ucapnya.
Itu sebabnya, lanjut Mu’ti, bimbingan dan spiritualitas menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah.
“Tujuannya membangun generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Nah ini yang coba kita bangun, tidak selalu harus sekolah saja, kita ingin partisipatif, ya, melibatkan orang tua, melibatkan sesama murid,” tandas Mu’ti.
Mu’ti juga berharap agar ada duta antikekerasan di sekolah-sekolah yang dapat menjadi pemengaruh atau influencer di antara sesama pelajar.
“Nanti akan menjadi semacam influencer di kalangan sesama pelajar bagaimana mereka ini membina relasi yang lebih saling menghormati, relasi yang lebih terbuka, dan sekali lagi saling menerima semua murid dengan berbagai perbedaan,”ujar Mu’ti. (Lozy)
