Dana Perawatan Terkuras, Mobil Karangpawitan Terbengkalai di Seroja Bertahun-tahun, Aroma Korupsi APBD Karawang Barat Mencuat
KARAWANG, Garuda Nusantara– Dugaan penyelewengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam kegiatan pemeliharaan kendaraan dinas operasional di Kecamatan Karawang Barat mulai berhembus.
Setelah sebelumnya, Kelurahan Adiarsa Barat yang disorot, kini giliran Kelurahan Karangpawitan yang menjadi pusat kecurigaan, di mana mobil operasionalnya diinformasikam tidak berfungsi dan menghilang selama kurang lebih empat tahun, namun anggaran perawatannya terus diklaim habis terserap.
Menurut data Sistem Informasi Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, alokasi dana pemeliharaan mobil operasional Kelurahan di Kecamatan Karawang Barat mencapai hingga ratusan juta rupiah, dengan kisaran antara Rp33 juta hingga Rp37 juta per tahun per kelurahan.
Menurut informasi dari warga sekitar, mobil operasional tersebut tak pernah tampak terparkir di kantor Kelurahan, sudah hampir empat tahun lamanya diduga terbengkalai dipinggir jalan di Kampung Seroja -Tuparep. Tepatnya, percis didepan toko burung dipinggir gedung Seroja.
Menurut warga sekitar, mobil tersebut sudah lama sekali ada disana, sempat dibawa sebentar ke kelurahan lalu kemudian ditaruh lagi dilokasi tersebut.

“Ya, itu mobil Kelurahan Karangpawitan, itu mobil memang disitu terus, lama sekali. Sempatlah tiga atau empat bulan lalu dibawa ke Kelurahan tapi tak lama ditaruh lagi disini,” kata seorang warga setempat.
“Sebelumnya di sana (menunjuk jajaran ruko yang masih dilokasi Seroja, red), tapi kemudian dipindah lagi ke situ sama pak RT. Katanya sih, turun mesin,” ungkapnya lagi.
Terpantau, mobil tersebut berada persis dipinggir jalan. Dan sesekali digunakan warga menjemur burung.
Ironisnya, pihak Kecamatan menginformasikan bahwa anggaran pemeliharaan di tahun 2023 dan 2024, telah terserap, sementara Rp37 juta di tahun 2025, hanya tersisa alokasi BBM saja.
Hal ini memicu dugaan kuat adanya praktik korupsi dalam pengelolaan aset tersebut.
Ketika dikonfirmasi onediginews.com, Plt. Lurah Karangpawitan, Eki Nugraha justru memberikan keterangan yang berbeda. Menurutnya, sejak mulai menjabat awal tahun 2025, ia mengaku pihaknya saat ini sedang melakukan perbaikan terhadap mobil tersebut.
Lurah Eki mengaku ketika mengetahui mobil dinas operasional tidak ada, ia segera mengecek aset tersebut. Hasilnya, mobil ditemukan mengalami kerusakan fatal yang membutuhkan biaya perbaikan besar.
Dikatakan Lurah Eki, bahwa saat ia masuk, mobil tersebut sudah dalam kondisi rusak parah.
“Saya itu masuk di awal tahun, 2025, ya? Saya tanya, mobilnya mana? Oh, mobil di bengkel. Ya sudah, benerin. Montirnya yang biasa orang kepercayaan di sini, katanya mesinnya itu sudah dibongkar, lalu saya minta mobil itu diperbaiki. Muncul lah di angka Rp20 juta-an lebih dikit, turun mesin, jatuhnya,” kata Lurah Eki menjelaskan, Kamis (13/11/2025).
Lurah Eki juga menolak bertanggung jawab atas penggunaan dana perawatan di masa lalu sebelum kepemimpinannya.
“Kalau terserap atau tidak, saya tidak tahu. Karena kan, itu tahun 2024 dan 2023 kan? Itu kan Kecamatan yang tahu. Saya pun kalau misalnya bicara nanti ini, takut salah,… Mungkin boleh ditanyakan ke Lurah yang sebelumnya (Haris, red)” ujarnya.
Lurah Eki juga menjelaskan terkait kendala anggaran, di mana pengajuan ke Kecamatan dibatasi hanya Rp15 juta per pengajuan, sementara perbaikan menelan biaya lebih dari Rp20 juta.
“Metode kita Rp.36 juta itu adalah uang yang disiapkan selama 1 tahun. Pengajuannya pun tidak bisa langsung [mengeluarkan uang sekaligus]… makanya saya anggarakan Rp9 juta dulu dari dana UP,” kilahnya.
Lurah Eki menuturkan dirinya kini lebih memprioritaskan perbaikan pelayanan kantor, seperti memperbaiki kamar mandi.
“Jangan sampai, ketika ada masyarakat, mengeluhkan, kantornya butut, kamar mandinya pesing. Sekarang boleh dicek lah. Bagus sekarang, wangi,” kata Lurah Eki seraya berjanji pihaknya akan segera menyelesaikan perbaikan dan mengaktifkan kembali mobil tersebut bulan depan.
Pertanyaan tajam pun muncul, mengapa mobil operasional yang merupakan aset negara itu dibiarkan bertahun-tahun terbengkalai, dipinggiran jalan dalam kondisi rusak parah, sementara anggaran perawatan rutin yang dialokasikan Kecamatan selalu terserap penuh setiap tahun?.
Dikonfirmasi terpisah, mantan Lurah Karangpawitan yang kini bertugas di Kecamatan Banyusari, Haris, membantah jika mobil itu dibiarkan terbengkalai. Ia mengklaim sudah berulang kali melakukan perbaikan, tetapi mobil itu mudah rusak kembali.
“Sudah diperbaiki beberapa kali, ya. Jadi, sempat turun mesin, dipakai lagi, Rusak lagi,… Karena memang rusak berat,” kata Haris.
Haris mengklaim kerusakan fatal berulang disebabkan penggunaan darurat oleh warga dan pihak kelurahan untuk operasional mendesak. Dengan cara pemakaian yang tak terkontrol oleh dirinya.
Haris bahkan mengaku pernah berniat untuk menghapus aset tersebut sebelum ia pindah tugas.
“Karena sering rusak, waktu itu, saya sempat mau kembalikan ke bidang aset. Karena lama-lama memang membebani tapi saya keburu pindah tugas,” ungkap Haris.
Terpisah melihat kondisi ini, Publik pun menuntut transparansi total dari Kecamatan Karawang Barat. Aparat penegak hukum dan Inspketorat didesak untuk mengusut tuntas ke mana mengalirnya dana pemeliharaan ratusan juta rupiah selama mobil operasional tersebut tidak berjalan dan rusak parah, bahkan disinyalir dibiarkan terbengkalai begitu saja.(Lozy)
