Siswa Protes di Hari Guru, Kepala Sekolah SMAN 1 Babelan Angkat Bicara
KAB. BEKASI, Garuda Nusantara – Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Babelan, Kabupaten Bekasi, pada peringatan Hari Guru Nasional mendapat sorotan setelah siswa melakukan protes terkait transparansi penggunaan dana bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS).
Munculnya Aksi tersebut muncul diduga sebagai bentuk protes keberatan siswa terhadap sejumlah iuran yang dinilai tidak jelas peruntukannya selama ini.
Seorang siswa menyampaikan keluhannya bahwa pihak sekolah meminta berbagai sumbangan mulai dari pembangunan kelas, dukungan kegiatan sekolah, hingga pembangunan masjid.
Menurutnya, nominal sumbangan bervariasi dan dinilai memberatkan sebagian orang tua.
“Sumbangan kegiatan, sumbangan pembangunan kelas hingga pembangunan masjid Sekolah yang nilainya bervariasi, Kami protes karena melihat kondisi orang tua kami. Selain itu, peruntukannya pun tidak jelas. Pembangunan masjid dan kelas, sampai penataan taman yang tak kunjung selesai bertahun-tahun” ujar salah seorang siswa saat diwawancarai bekasivoice.com, Rabu (26/11/2025).
Aksi protes tersebut kemudian viral di media sosial dan mendapat perhatian publik.
Banyak murid yang turut mempertanyakan pengelolaan serta transparansi anggaran sekolah, terutama karena keluhan muncul bersamaan dengan momentum Hari Guru yang seharusnya diisi dengan apresiasi terhadap tenaga pendidik.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMAN 1 Babelan, Woro Sawitri, mengakui adanya pungutan di sekolah.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap pungutan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama komite sekolah.
“Kami punya guru honorer dan banyak kegiatan yang tidak terdanai dari anggaran yang ada seperti dana BOS. Kasihan guru-guru yang harus tetap bekerja. Karena itu, ada kesepakatan sumbangan untuk membantu kegiatan tersebut,” jelas Woro.
Dirinya menambahkan semenjak dipimpin Kang Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat dan adanya intruksi langsung, Sekolah yang dipimpinnya sudah tidak lagi meminta sumbangan seperti ramai yang diberitakan media, adapun Kwitansi yang beredar merupakan sumbangan kegiatan tahun lalu saat para siswa hendak masuk perguruan tinggi.
Pihak sekolah menegaskan siap membuka dialog dengan siswa dan orang tua untuk memberikan penjelasan lebih rinci mengenai aliran dana serta memastikan transparansi sesuai ketentuan.
Dengan mencuatnya protes di momen Hari Guru Nasional, pengelolaan anggaran pendidikan dapat dilakukan lebih akuntabel demi menghindari kesalahpahaman dan menjaga kepercayaan antara sekolah, siswa, dan orang tua. (Lozy)

